Dalam sebuah keluarga, salah paham dan pertikaian antara suami dan istri itu dapat dikatakan lumrah atau hal yang biasa terjadi. Ada yang mengatakan bahwa, "pertengkaran merupakan bumbu sebuah pernikahan (keluarga)" dan ada juga... Atau mungkin anda memiliki bahasa atau ungkapan lain?
Pertengkaran antara suami dan istri dalam sebuah keluarga dapat terjadi kapan saja (pagi, siang atau malam) tak mengenal waktu dan hal itu dapat menimbulkan sebuah teriakan atau bahkan sampai menimbulkan suara barang-barang jatuh atau pecah yang diakibatkan oleh emosi yang tidak terkendali antara keduanya. Sangat disayangkan jika pertikaian dan teriakan mereka (suami & istri) sampai terdengar anak-anaknya bahkan sampai terdengar tetangga.
Jika anak-anak mendengar teriakan dari pertengkaran orangtuanya, kemungkinan akan berdampak pada psikologi anak atau bahkan anak tersebut akan meniru teriakan-teriakan itu sehingga merekapun akan melakukan hal yang sama kepada orangtuanya saat berbicara (membetak). Dan tidak menutup kemungkinan jika anak mereka akan berpikir "apakah ibu masih sayang
pada ayah?" atau "apakah ayah masih mencintai ibu? Lalu mengapa mereka berdua tidak
bisa rukun."
Bila hal itu terjadi dalam sebuah keluarga, maka lingkungan dalam rumah tersebut akan di didik dan terdidik dengan suara keras dan bentakan. Kita sebagai orangtua tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak yang berani membentak atau berbicara dengan nada tinggi ketika berbicara kepada orangtuanya, ada baiknya kita (para orangtua) berkaca dan perbaiki diri sebelum bertindak. Apakah diri kita sudah cukup baik dalam berbuat dan berucap dalam keluarga kita? Karena Al Quran menyuruh kita untuk merendahkan suara sesuai dengan Surat Lukman yang berbunyi;
"Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS: Luqman: 19)
Apakah kita harus menyelesaikan masalah dengan bentakan dan teriakan?
Apakah rasa kesal harus diungkapkan dengan bentakan dan teriakan?
Apakah kita ingin membangun dan membina rumah tangga dengan bentakan?
Untuk itu ayah dan ibu, mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengecilkan suara. Anggota keluarga kita bukan orang yang tuli, semua pendengarannya bagus, selain itu rumah kita pun kecil areanya, jadi mulailah dengan ayah dan ibu untuk mengecilkan suara, niscaya anak-anak akan lebih tenang dan desakan untuk berteriak akan berkurang. Janganlah kita menciptakan aura berteriak di dalam keluarga. Marilah kita coba bersikap tenang dan bersuara pelan, insyaAllah akan tercipta sebuah keluarga yang lebih tenang, nyaman dan sakina.
0 comments:
Post a Comment