Thursday, July 24, 2014

No comments
Posted in

Teriakan Dalam Keluarga

Dalam sebuah keluarga, salah paham dan pertikaian antara suami dan istri itu dapat dikatakan lumrah atau hal yang biasa terjadi. Ada yang mengatakan bahwa, "pertengkaran merupakan bumbu sebuah pernikahan (keluarga)" dan ada juga... Atau mungkin anda memiliki bahasa atau ungkapan lain?
Pertengkaran antara suami dan istri dalam sebuah keluarga dapat terjadi kapan saja (pagi, siang atau malam) tak mengenal waktu dan hal itu dapat menimbulkan sebuah teriakan atau bahkan sampai menimbulkan suara barang-barang jatuh atau pecah yang diakibatkan oleh emosi yang tidak terkendali antara keduanya. Sangat disayangkan jika pertikaian dan teriakan mereka (suami & istri) sampai terdengar anak-anaknya bahkan sampai terdengar tetangga. 
Jika anak-anak mendengar teriakan dari pertengkaran orangtuanya, kemungkinan akan berdampak pada psikologi anak atau bahkan anak tersebut akan meniru teriakan-teriakan itu sehingga merekapun akan melakukan hal yang sama kepada orangtuanya saat berbicara (membetak). Dan tidak menutup kemungkinan jika anak mereka akan berpikir  "apakah ibu masih sayang pada ayah?" atau "apakah ayah masih mencintai ibu? Lalu mengapa mereka berdua tidak bisa rukun."

Bila hal itu terjadi dalam sebuah keluarga, maka lingkungan dalam rumah tersebut akan di didik dan terdidik dengan suara keras dan bentakan. Kita sebagai orangtua tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak yang berani membentak atau berbicara dengan nada tinggi ketika berbicara kepada orangtuanya, ada baiknya kita (para orangtua) berkaca dan perbaiki diri sebelum bertindak. Apakah diri kita sudah cukup baik dalam berbuat dan berucap dalam keluarga kita? Karena Al Quran menyuruh kita untuk merendahkan suara sesuai dengan Surat Lukman yang berbunyi;

"Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS: Luqman: 19)

Apakah kita harus menyelesaikan masalah dengan bentakan dan teriakan?

Apakah rasa kesal harus diungkapkan dengan bentakan dan teriakan?

Apakah kita ingin membangun dan membina rumah tangga dengan bentakan?

Untuk itu ayah dan ibu, mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengecilkan suara. Anggota keluarga kita bukan orang yang tuli, semua pendengarannya bagus, selain itu rumah kita pun kecil areanya, jadi mulailah dengan ayah dan ibu untuk mengecilkan suara, niscaya anak-anak akan lebih tenang dan desakan untuk berteriak akan berkurang. Janganlah kita menciptakan aura berteriak di dalam keluarga. Marilah kita coba bersikap tenang dan bersuara pelan, insyaAllah akan tercipta sebuah keluarga yang lebih tenang, nyaman dan sakina.

Tuesday, July 15, 2014

No comments
Posted in ,

Kenali Kondisi Kesehatan Bayi Anda dari Warna Fesesnya (kotoran/pup)

Belajar dari pengalaman dan membaca artikel-artikel mengenai perawatan bayi, ternyata warna pup bayi saat baru lahir (0 bulan) dapat menjadi sumber informasi atau ungkapan mengenai kondisi kesehatannya. Dua puluh empat jam setelah lahir, bayi akan pup alias buang air besar.

Nah kotoran pertama ini biasanya berwarna kehijau-hijauan, dan dalam bahasa kedokteran disebut Mekonium. Mekonium ini terbentuk dari cairan ketuban yang tertelan saat bayi masih di dalam kandungan, dan berada di dalam ususnya sejak 3 bulan sebelum dilahirkan. Seperti hal yang pernah kami alami pada kelahiran putri pertama kami di mana satu hari setelah proses kelahirannya, putri kami pup dengan bentuk seperti kotoran kambing sebanyak tiga butir dan orang tua kami menyebutnya sebagai "kotoran gagak."

Mekonium ini akan terdesak keluar segera setelah bayi mulai menyusu, sebab ASI merangsang sistem pencernaan bayi untuk melakukan tugasnya. Setelah keluar Mekonium, pup yang dikeluarkan bayi akan berubah-ubah warna dan bentuk sesuai komposisi senyawa di dalam ASI yang diberikan.

Berikut perubahan dan peralihan warna berdasarkan asupan gizi dari ASI yang perlu kita ketahui:
  • Berbentuk cairan berwarna hijau atau kuning
    Biasanya ini adalah kotoran transisi antara mekonium dan kotoran yang terbentuk dari “sampah” ASI. Kotoran seperti ini keluar selama beberapa hari setelah bayi lahir.
  • Berbentuk mirip butiran beras, warnanya kuning cerah dan baunya agak asam
    Ini merupakan kotoran yang dihasilkan setelah bayi mengkonsumsi ASI secara teratur.
  • Berbentuk agak padat warna kuning pucat atau kuning kecoklatan, bau agak asam/tajam
    Ini kotoran yang dihasilkan bayi yang diberi susu formula selain ASI.
  • Berbentuk cair, tanpa ampas dan warnanya hijau
    Nah kalau yang ini menandakan bahwa bayi mengalami diare, bunda.
  • Berbentuk bulat seperti kotoran kambing, padat, keras dan warnanya hitam
    Kalau yang ini si bayi mengalami sembelit.

Note:
Jika tiba-tiba pup bayi berubah baik dari segi bentuk atau warna dan disertai dengan reaksi menangis dan rewel, maka kita perlu memberi perhatian ekstra. Terutama pada sang ibu yang harus menjaga dan memperhatikan kandungan gizi dan vitamin pada makanan dan minuman yang akan dikonsumsi karena hal ini sangat berpengaruh pada komposisi gizi dalam ASI yang diproduksi yang kemudian akan dikonsumsi oleh si bayi.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita mengenai kondisi kesehatan bayi


Thursday, July 10, 2014

No comments
Posted in ,

Demam & Kejang Pada Balita

Ketika melihat anak sakit, rasanya ingin sekali menggantikan posisinya pada saat itu (tidak tega melihatnya menderita seperti itu). Pastinya rasa kuatir menjadi hal yang akan dialami oleh setiap orang tua. Apalagi jika anak demam dengan suhu tinggi, terlebih lagi jika demam disertai dengan kejang-kejang. Demam kejang biasa terjadi pada sedikitnya sekitar 5% anak pada usia 6 bulan sampai 6 tahun mengalami hal ini, terutama jika orangtua memiliki riwayat kejang demam serupa sewaktu kecil. Tentunya kita sebagai orangtua akan merasa panik.

Apa yang harus kita lakukan apabila anak mengalami demam kejang?

Kejang demam adalah kejang yang terjadi ketika seorang bayi atau anak mengalami demam yang bukan disebabkan dari infeksi sistem saraf pusat. Kejang pada anak perlu mendapat perhatian karena kejang dapat terjadi berulang kali dan membahayakan. Jika anak terlalu sering mengalami kejang demam, hal ini dapat merusak sel-sel otak pada anak.

Maka perlu kita ketahui terlebih dahulu adalah jenis demam yang dialami si anak. Ada beberapa jenis demam yang disertai kejang yang harus kita ketahui

Jenis Kejang Demam

Berdasarkan lama terjadinya kejang dan seberapa sering terjadinya, kejang dibedakan menjadi:
  • Kejang Demam Sederhana
    Yaitu kejang yang terjadi pada seluruh tubuh dengan lama waktu terjadinya kejang kurang dari 10 menit dan tidak terjadi lagi dalam kurun waktu 24 jam.
  • Kejang Demam Kompleks
    Yaitu kejang lokal (tidak terjadi pada seluruh tubuh) yang biasa terjadi pada area lengan dan tungkai kaki. Kejang kompleks berlangsung selama lebih dari 10 menit dan terjadi lebih dari 1 kali dalam kurun waktu 24 jam.
  •  

Apakah Anak Kita Kejang Demam?

Apabila Anda menduga anak mengalami kejang, untuk memastikannya dapat dicoba dengan melakukan hal ini:
  • Jika anak dalam posisi lengan tertekuk pada siku, maka dengan perlahan coba luruskan lengan anak. Jika lengan dengan mudah dapat diluruskan berati anak tidak mengalami kejang.
  • Jika anak dalam posisi lengan lurus, maka coba secara perlahan tekuk lengan anak. Jika dengan mudah dapat ditekuk berarti anak tidak mengalami kejang.
  • Sebaliknya, jika lengan sulit diluruskan atau sulit untuk ditekuk, kemungkinan besar anak mengalami kejang.
  •  

Tips Hadapi Kejang Demam

Berikut ini ada beberapa tips yang sudah terbukti untuk menghadapi anak kejang.

Panik adalah hal yang akan dialami jika orangtua anak mereka mengalami kejang. Namun, kepanikan tidak membuat keadaan lebih baik. Untuk menghadapi anak yang mengalami kejang, lakukan hal berikut:
  • Tenangkan diri Anda.
  • Jika anak dalam posisi tidur telentang, miringkan tubuh anak ke salah satu sisi.
  • Jangan memberikan minuman apapun pada saat anak mengalami kejang karena minuman dapat menyebabkan cairan masuk ke dalam paru-paru.
  • Jika ada, berikan obat untuk meredakan kejang untuk pertolongan pertama. Obat ini biasa dimasukkan melalui dubur (lihat gambar 2). Jika anak Anda pernah mengalami kejang, tanyakan pada dokter mengenai obat yang dapat meredakan kejang tersebut dan selalu siapkan persediaan obat di rumah.
    gambar 2
  • Bawa segera ke tempat pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit agar dapat segera ditangani.




Semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan cara menaggulangi anak saat demam